Badai Laut
Langit mulai menggelap bersama gumpalan awan yang kian tebal
Tapi kemilaunya laut tak luntur sedikit pun
Desir ombak semakin mengencang seiring angin yang semakin
banyak datang bagai amukan
Namun tak membuat gentar burung burung laut untuk tetap
terbang melintasinya
Dari balik jendela kapal ini ku melihat lautan yang
sepertinya sedang marah
Aku tetap menatapnya dengan perasaan sedikit tidak
tenang
Sementara lantunan doa tlah terucap oleh ratusan penumpang
kapal ini
Badai laut ini seperti hal yang baru bagiku
Mungkinkah karena ini kali pertama aku menemuinya
Setelah sekian kali aku menyebrangi lautan
Kawan tahukah engkau aku seperti pernah melihat badai ini
sebelumnya
Dalam mimpi sehari sebelum dia benar benar pergi
Dialah sahabatku seorang pria bermata biru yang tiada lagi
kabar sesaat setelah perjalanan pulangnya
Bahkan keluarganya masih penasaran akan keberadaanya
Apakah dia masih hidup atau sudah tiada
Mungkinkah lautan ini tlah menelannya
Ataukan dia masih hidup di suatu tempat di sebuah daratan
sana
Aku tidak tau
Aku masih menatap tak tenang lautan yang sedang mengamuk ini
dari balik jendela kapal
Rintik hujan mulai datang deras dan semakin deras seiring dengan suara petir yang mulai menggema
Angin sudah tak lagi bertiup teratur bahkan sepertinya makin
mengamuk
Lantunan doa ratusan penumpang kapal ini semakin mengeras
Berharap tak ada hal buruk yang menimpa kami
Hingga waktu berlalu tiba tiba matahari menampakan dirinya
dan menyiram kami dengan cahaya terangnya
Lautan mendadak tenang dan tiada lagi angin yang mengamuk
Kapal tlah meninggalkan awan badai yang tebal di belakang
sana
Ucap syukurpun tak lupa kami haturkan kepada Sang Pencipta
#30DWC #30DWCJilid22 #Day15
#30DWC #30DWCJilid22 #Day15
Halo, mbak Diki. Salken dari squad 6.
ReplyDeleteKeren puisinya. Btw, naik kapalnya ini tuk mencari si lelaki bermata biru itu? Hehe..